Pusdat

Pembunuhan Rosa Luxemburg dan Karl Liebknecht

Jakarta

Karl Liebknecht dan Rosa Luxemburg. (Foto: marxistreview.asia)

PENDOBRAK – 15 Januari menempati posisi penting dalam sejarah politik Jerman. Pada hari ini, 107 tahun yang lalu, dua tokoh utama gerakan sosialis revolusioner—Rosa Luxemburg dan Karl Liebknecht—dibunuh di Berlin. Peristiwa ini tidak hanya menandai akhir hidup dua pemimpin politik, tetapi juga menjadi salah satu titik balik yang menentukan kegagalan revolusi kiri di Jerman pasca–Perang Dunia I.

Pembunuhan tersebut terjadi di tengah situasi politik yang rapuh, ketika negara baru bernama Republik Weimar masih berjuang mempertahankan stabilitas. Keputusan negara untuk menyingkirkan lawan politik dengan kekerasan meninggalkan jejak kelam dalam perjalanan demokrasi Jerman.

Jerman Pasca–Perang Dunia I: Negara Baru dalam Krisis Lama

Kekalahan Jerman dalam Perang Dunia I pada November 1918 mengguncang seluruh sendi kehidupan nasional. Kekaisaran runtuh, Kaisar Wilhelm II turun takhta, dan pemerintahan lama kehilangan legitimasi. Di kota-kota besar, termasuk Berlin, jutaan buruh dan tentara kembali dari perang dalam kondisi frustrasi, miskin, dan marah.

Krisis ekonomi, kelaparan, dan inflasi memperparah situasi. Pada saat yang sama, gagasan revolusi menyebar cepat, terinspirasi oleh keberhasilan Revolusi Rusia 1917. Banyak buruh membentuk dewan-dewan pekerja dan tentara (Arbeiter- und Soldatenräte), menuntut perombakan total sistem politik dan ekonomi.

Namun, tidak semua kekuatan politik sepakat soal arah perubahan. Di sinilah perpecahan mulai tampak. Berbeda dengan pengalaman Bolshevik di Rusia: aliansi antara buruh dan militer revolusioner yang semula tampak kuat, terpecah oleh pengkhianatan politik. 

Partai Sosial Demokrat (SPD), yang pernah dianggap sebagai harapan besar gerakan buruh dan sosialis, justru beralih menjadi sekutu penguasa lama untuk mempertahankan ketertiban dan menahan gelombang perubahan.

Gelombang revolusi menempatkan para tokoh revolusioner pada posisi strategis. Rosa Luxemburg dikenal sebagai intelektual Marxis terkemuka di Eropa. Ia adalah penulis, ekonom, dan orator yang berpengaruh, sekaligus kritikus tajam terhadap kapitalisme dan nasionalisme. Meski mendukung revolusi, Luxemburg dikenal menolak kekuasaan yang bersifat otoriter dan menekankan pentingnya demokrasi serta kebebasan berpendapat.

Karl Liebknecht, sebaliknya, tampil lebih menonjol sebagai figur politik praktis. Ia adalah satu-satunya anggota Reichstag yang secara terbuka menolak perang pada 1914. Sikap ini membuatnya dipenjara, namun juga mengangkat reputasinya sebagai simbol perlawanan terhadap perang dan militerisme.

Keduanya beserta Clara Zetkin merupakan tokoh pendiri Liga Spartakus, selanjutnya menjadi Partai Komunis Jerman (KPD), sebuah gerakan sosialis revolusioner yang lahir sebagai dampak pengkhianatan SPD yang mendukung perang..

Ketegangan dengan Pemerintah dan Pecahnya Pemberontakan

Pemerintah sementara Republik Weimar dipimpin oleh Partai Sosial Demokrat Jerman (SPD), memilih jalur reformis. Demi menjaga stabilitas, pimpinan SPD menjalin kerja sama dengan kekuatan militer lama dan kelompok paramiliter.

Ketegangan antara pemerintah dan kaum revolusioner mencapai puncaknya pada awal Januari 1919, ketika terjadi apa yang kemudian dikenal sebagai Pemberontakan Spartakus di Berlin. Aksi massa, pemogokan, dan pendudukan gedung-gedung strategis berlangsung selama beberapa hari.

Gerakan ini pada akhirnya gagal. Pemerintah memerintahkan penindakan keras dengan mengerahkan Freikorps, pasukan paramiliter sayap kanan yang terkenal disiplin namun brutal. Banyak pejuang revolusioner tewas, dan para pemimpinnya menjadi target utama.

Pada sore hari 15 Januari 1919, Rosa Luxemburg dan Karl Liebknecht ditangkap di sebuah apartemen tempat mereka bersembunyi di Berlin. Penangkapan dilakukan oleh anggota Freikorps atas perintah pemimpin SDP, Friedrich Ebert.. Keduanya kemudian dibawa ke Hotel Eden, yang saat itu digunakan sebagai markas militer sementara.

Alih-alih diproses secara hukum, Luxemburg dan Liebknecht menjalani interogasi kasar. Keduanya kemudian dibunuh. Karl Liebknecht dieksekusi lebih dulu. Ia dibawa ke kawasan Tiergarten dan ditembak. Kepada publik, otoritas militer menyatakan bahwa ia tewas saat berusaha melarikan diri.

Rosa Luxemburg mengalami nasib yang lebih kejam. Ia dipukuli hingga tak berdaya, ditembak di kepala, dan jasadnya dibuang ke Kanal Landwehr. Tubuhnya baru ditemukan pada Mei 1919, berbulan-bulan setelah pembunuhan itu.

Versi resmi pemerintah segera dipertanyakan. Penyelidikan kemudian mengonfirmasi bahwa keduanya menjadi korban pembunuhan politik.

Dampak Politik dan Kontroversi Sejarah

Pembunuhan Luxemburg dan Liebknecht secara efektif mematahkan gerakan revolusioner kiri di Jerman. KPD kehilangan dua pemimpin utamanya, sementara perpecahan di antara kelompok kiri semakin dalam.

Keputusan pemerintah SPD untuk bekerja sama dengan Freikorps terus menjadi bahan perdebatan hingga kini. Kelompok paramiliter ini kelak menjadi basis bagi berkembangnya gerakan ekstrem kanan di Jerman, termasuk unsur-unsur yang kemudian mendukung Nazisme.

Dengan demikian, peristiwa 15 Januari 1919 sering dipandang sebagai momen ketika Republik Weimar pimpinan Partai Sosial Demokrat (SPD) Jerman memilih stabilitas jangka pendek dengan harga yang mahal.

Warisan Rosa Luxemburg dan Karl Liebknecht

Lebih dari satu abad kemudian, Rosa Luxemburg dan Karl Liebknecht dikenang sebagai simbol perlawanan terhadap perang, ketidakadilan sosial, dan represi negara. Pemikiran Luxemburg, khususnya tentang demokrasi dan kebebasan, tetap relevan hingga hari ini.

Setiap tahun, peringatan kematian mereka di Berlin dihadiri ribuan orang. Sejarah mencatat bahwa meski keduanya dibungkam dengan kekerasan, gagasan yang mereka perjuangkan tidak pernah sepenuhnya hilang.

15 Januari 1919 adalah pengingat bahwa kelahiran sebuah negara sering kali disertai keputusan-keputusan gelap. Pembunuhan Rosa Luxemburg dan Karl Liebknecht menunjukkan bagaimana ketakutan terhadap perubahan dapat mendorong negara menggunakan kekerasan terhadap warganya sendiri—sebuah pelajaran yang terus bergema dalam sejarah politik modern, termasuk Indonesia. (YTB)




Surabaya