Presiden Kolombia Siap Angkat Senjata Lagi Jika AS Lakukan Intervensi Militer
Jakarta
Surabaya
![]() |
| Presiden Kolombia Gustavo Petro menyatakan kesiapannya untuk kembali mengangkat senjata demi membela negaranya apabila Amerika Serikat (AS) melakukan intervensi (Luisa Gonzalez/REUTERS) |
PENDOBRAK - Presiden Kolombia Gustavo Petro menyatakan kesiapannya untuk kembali mengangkat senjata demi membela negaranya apabila Amerika Serikat (AS) melakukan intervensi militer terhadap Kolombia.
Pernyataan tegas ini disampaikan Petro di tengah meningkatnya ketegangan politik dan retorika ancaman dari Presiden AS Donald Trump terhadap pemerintah Kolombia.
Melalui unggahan di media sosial pada Senin (waktu setempat), Petro, mantan pejuang kiri yang kini memimpin Kolombia menegaskan bahwa setiap bentuk intervensi kekerasan dari AS, seperti yang disebut-sebut terjadi di Venezuela pada akhir pekan lalu, akan memicu perlawanan.
Dalam unggahan di X pada hari Senin, Petro berjanji untuk melawan ancaman AS. “Meskipun saya bukan seorang militer, saya tahu tentang perang dan operasi rahasia. Saya bersumpah untuk tidak menyentuh senjata lagi sejak Pakta Perdamaian 1989, tetapi demi Tanah Air, saya dengan berat hati akan mengangkat senjata lagi,” katanya.
Perlu diketahui, sebelum terpilih sebagai presiden sayap kiri pertama Kolombia pada tahun 2022, Petro adalah bagian dari kelompok gerilya komunis M-19. Kelompok itu setuju untuk meletakkan senjata dan bergabung dengan politik arus utama Kolombia pada akhir tahun 1980-an.
Pernyataannya muncul setelah Presiden Donald Trump mengancam akan membuat Petro bernasib serupa dengan Presiden Venezuela yang digulingkan; Nicolas Maduro. Sekadar diketahui, pasukan khusus Delta Force Angkatan Darat AS menculik Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dalam operasi militer singkat di Caracas, Venezuela, Sabtu pekan lalu.
Ketegangan Petro–Trump Memanas
Gustavo Petro juga dikenal sebagai salah satu pengkritik paling vokal Presiden AS Donald Trump di kawasan Amerika Latin. Ketegangan kedua pemimpin ini kian memuncak setelah Trump melontarkan ancaman terhadap Kolombia dengan dalih pemberantasan perdagangan narkotika.
Dalam beberapa hari terakhir, nada ancaman Trump disebut semakin agresif. Pada akhir pekan, Trump bahkan memperingatkan Petro agar “berhati-hati” menyusul penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, sebuah tindakan yang oleh banyak pakar hukum internasional dinilai ilegal.
Trump juga menyatakan kepada wartawan bahwa operasi serupa terhadap pemerintahan Petro “terdengar bagus”.
“Kolombia juga sangat sakit, dipimpin oleh orang sakit, yang senang membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat, dan itu tidak akan berlangsung lama,” kata Trump. Tuduhan tersebut dibantah keras oleh Petro dan tidak didukung bukti.
Petro menegaskan bahwa pemerintahannya tetap berkomitmen memerangi produksi narkoba, namun dengan pendekatan yang berbeda dari model “perang melawan narkoba” yang selama ini bersifat militeristik.
Menurut Petro, strategi Kolombia saat ini lebih menekankan reformasi sosial, pengurangan ketimpangan, serta pendekatan pembangunan sebagai akar solusi masalah narkotika.
“Saya menghentikan pertumbuhan tanaman daun koka dan memulai rencana penggantian tanaman sukarela yang besar oleh petani penanam koka,” katanya, dengan alasan bahwa serangan udaranya terhadap kartel lokal membutuhkan ketelitian yang tepat untuk menghindari pembunuhan anak-anak dan petani, agar tidak menambah jumlah kelompok pemberontak Kolombia.
Setelah tuduhan perdagangan narkoba oleh Trump dan ancaman intervensi militer, Petro mengatakan dia menuntut agar setiap perwira militer "yang lebih menyukai bendera AS daripada bendera Kolombia" mengundurkan diri.
