Pusdat

13 Desember 1937, Awal Pembantaian Nanjing

Jakarta

Upacara peringatan 88 tahun Pembantaian Nanking, di Nanjing, Tiongkok Timur, Sabtu, 13 Desember 2025. (Foto: AFP/SCMP)

 

PENDOBRAK  Pada 13 Desember 1937, Tentara Kekaisaran Jepang merebut Nanjing (atau Nanking), ibu kota Republik China saat itu, menandai dimulainya salah satu babak tergelap dalam sejarah Perang Sino-Jepang Kedua. Peristiwa ini, yang dikenal sebagai Pembantaian Nanking atau Pemerkosaan Nanking, menjadi simbol kekejaman tentara Jepang. Tindakan sadis berupa pembunuhan massal, pemerkosaan, dan penghancuran sistematis ditujukan terhadap warga sipil dan tawanan perang China. 


Pembantaian berlangsung selama sekitar enam minggu, dari 13 Desember 1937 hingga akhir Januari 1938, meskipun kekerasan telah dimulai sejak akhir November di sekitar Shanghai dan Nanjing.


Konteks Sejarah


Pembantaian Nanking terjadi di tengah Perang Sino-Jepang Kedua, yang dimulai setelah Insiden Jembatan Marco Polo pada Juli 1937. Jepang, yang sedang ekspansi imperialis, merebut Shanghai pada November 1937 setelah pertempuran sengit yang menewaskan ratusan ribu tentara dari kedua belah pihak. 


Pasukan Jepang kemudian maju ke Nanjing untuk menghancurkan pemerintahan Nasionalis China di bawah Chiang Kai-shek. Kota Nanjing, dengan populasi sekitar satu juta jiwa, sebagian besar ditinggalkan oleh pasukan China yang mundur secara kacau pada 12 Desember. 


Perintah dari Pangeran Yasuhiko Asaka, komandan pasukan Jepang, untuk "membunuh semua tawanan" diduga memicu kekerasan yang tidak terkendali. Rasisme anti-China, ultranasionalisme Jepang, dan disiplin militer yang rusak memperburuk situasi, dengan tentara Jepang melakukan "kontes pembunuhan" seperti yang dilakukan oleh perwira Toshiaki Mukai dan Tsuyoshi Noda, yang membunuh lebih dari 100 orang dengan pedang.


Sebuah artikel di Tokyo Nichi Nichi Shimbun mengenai "Sayembara Membunuh 100 Orang dengan Pedang" (Kredit: Wikipedia)


Pada 13 Desember, pasukan Jepang memasuki kota dan langsung melakukan operasi "penyisiran" untuk memburu tentara China yang bersembunyi sebagai warga sipil. Ribuan pria China dieksekusi secara massal di tepi Sungai Yangtze, dengan metode kejam seperti tembak-menembak, ditusuk dengan bayonet, atau dibakar hidup-hidup.


Kronologi Peristiwa Utama


13 Desember 1937: Pasukan Jepang merebut Nanjing. Pembunuhan massal dimulai, termasuk eksekusi tawanan perang dan warga sipil. Wanita dan anak-anak menjadi korban pemerkosaan sistematis, sering diikuti pembunuhan dan mutilasi.


14–18 Desember: Eksekusi massal seperti Pembantaian Mufushan (17.000–20.000 tawanan ditembak dan dibuang ke sungai) dan Pembantaian Straw String Gorge. Pemerkosaan mencapai ribuan kasus per hari, termasuk sodomi dan inses paksa.


Akhir Desember hingga Januari 1938: Kekerasan mereda setelah Jepang mendirikan pemerintahan boneka pada Maret 1938, tetapi kerusakan sudah permanen: sepertiga kota dibakar, barang berharga dirampok.


Pada peristiwa ini terbentuk Zona Keamanan Nanking oleh Komite Internasional di bawah John Rabe (seorang pengusaha Jerman yang disebut "Schindler dari Nanjing"). Komite berhasil melindungi sekitar 200.000–250.000 warga sipil. Namun, pasukan Jepang sering menyerbu zona ini untuk melakukan kekerasan. Saksi mata seperti misionaris AS Minnie Vautrin dan Bernhard Sindberg mendokumentasikan peristiwa melalui diari, foto, dan film.


Korban dan Dampak

Estimasi korban bervariasi: Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh (1946–1948) menyatakan jumlah korban tewas lebih dari 200.000, sementara pemerintah China menyatakan mencapai 300.000 orang. Pemerkosaan diperkirakan 20.000–80.000 kasus dari segala usia. Korban termasuk 30.000 tawanan perang dan 12.000–60.000 warga sipil di dalam kota, ditambah ribuan lainnya di pedesaan sekitar Nanjing.


Pembantaian ini memicu kecaman internasional, termasuk gerakan boikot besi kasar Australia terhadap Jepang pada 1938. Pasca-perang, Jenderal Iwane Matsui dan lainnya didakwa dan dihukum mati di Pengadilan Tokyo, meskipun Pangeran Asaka lolos karena kekebalan sebagai keluarga kaisar.


Pembantaian Nanking tetap menjadi isu sensitif dalam hubungan China-Jepang. Pemerintah Tiongkok menetapkan Hari Peringatan Nasional pada 13 Desember sejak 2014, dengan upacara di Memorial Hall for Victims in Nanjing Massacre yang dibuka sejak 1985. Dokumen peristiwa ini masuk dalam Daftar Memori Dunia UNESCO pada 2015. 


Di Jepang, perdebatan berlanjut antara yang menerima fakta terjadinya "Pembantaian Massal" dan yang menyangkalnya. Hingga kini, kontroversi atas peristiwa Nanjing dan kekejaman tentara Kekaisaran Jepang dalam Perang Dunia II memengaruhi kunjungan para politisi dan pemimpin Jepang ke Kuil Yasukuni.



Surabaya